Rinjani

Langkah terasa sangat berat, pundak pun makin terasa perih bercampur pegal karna menggendong beban yang cukup berat beberapa hari ini. Melirik ke jam tangan, waktu menunjukan pukul 00.30 dini hari, tapi masih belum ada juga tanda-tanda akan sampai di pos lapor Senaru…

 

Sekitar 3 hari yang lalu, masih sangat jelas teringat bagaimana excited-nya kami ber 7 sewaktu kaki ini menginjak tanah Lombok. Sudah terbayangkan indahnya alam Rinjani yang selama ini hanya bisa kami lihat dan nikmati lewat media cetak atau elektronik, walaupun sebenarnya masih agak was-was karena dari 7 orang yang mendaki ini tidak seorang pun yang pernah ke Rinjani, bahkan ada peserta yang belum pernah naik gunung sebelumnya

Kami rencananya menggunakan jalur Sembalun untuk pendakian dan turun dari jalur Senaru, jalur yang sangat umum dan direkomendasikan oleh teman-teman yang sudah pernah ke Rinjani. Dari bandara ternyata masih cukup jauh jaraknya ke desa Sembalun, cukup bosan juga awalnya, namun setelah mulai memasuki desa Sembalun rasa bosan akan hilang dan berubah menjadi takjub karena pemandangan yang begitu indah

Sembalun

Menjelang sore kami pun memulai pendakian, rasanya sangat menyenangkan bisa melakukan pendakian dengan teman-teman yang saling pengertian.

Tim Rinjani

Kiri ke kanan (saya, Ato, Paul, Alex, Mas Teddy, Kintan, Aruna, Mahendra)

Walaupun beban tas carrier cukup berat namun canda dan tawa sepanjang perjalanan membuat semua terasa lebih ringan. Tidak lupa kamera saya keluarkan dan gantungkan di leher agar sewaktu-waktu bisa mengabadikan pemandangan yang sangat indah di sepanjang sore itu.

Sembalun

Hari pertama kami hanya akan sampai pos 2 dikarenakan sudah menjelang malam dan terlalu jauh untuk melanjutkan ke pos berikutnya. Malam itu cukup cerah sehingga kami bisa melihat langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang, luar biasa indahnya.

Pos 2

Pagi-pagi benar saya sudah bangun karena ingin menyaksikan matahari terbit di padang savana Sembalun, rasa dingin dan malas tidak cukup untuk menghentikan keinginan saya mengabadikan momen sunrise pertama disini.

Sembalun Sunrise

Perjalan pun kami lanjutkan setelah selesai sarapan dan packing semua perlengkapan, target kami adalah sampai di Plawangan Sembalun sebelum gelap, dimana kami akan mendirikan tenda berikutnya dan menjadi titik awal pendakian ke puncak Rinjani. Di sepanjang jalur pendakian kami berpapasan dengan banyak pendaki lainnya, baik pendaki lokal maupun dari negara lain. Rinjani memang cukup terkenal akan keindahannya sehingga selalu ramai dikunjungi orang, sayangnya fasilitas masih sangat minim, tidak jauh berbeda nasibnya dengan tempat-tempat wisata lainnya yang belum digarap serius oleh pemerintah.

Pagi itu sangat panas rasanya, keringat mengalir cukup deras membasahi semua bagian tubuh. Payung yang saya bawa ternyata sangat berguna, bukan hanya saat hujan tapi saat panas terik pun bisa juga digunakan untuk melindungi tubuh ini dari sengatan mentari.

Porter Rinjani

Lewat tengah hari cuaca berubah menjadi berkabut dan dingin, di gunung memang sangat jamak terjadi perubahan cuaca yang cepat dan sulit ditebak makanya selalu diwanti-wanti untuk selalu menyiapkan semua perlengkapan terhadap berbagai kondisi cuaca jika ingin mendaki gunung.

Rinjani Fog

Sekitar pukul 2 siang kami sudah tiba di Plawangan Sembalun, ramai sekali ternyata disana. Banyak pendaki yang sudah lebih dulu tiba disana, ada yang sedang mendirikan tenda, ada yang sudah bersantai dan ada pula yang sudah beres-beres dan sepertinya bersiap untuk pulang. Bahkan di tempat ini ada yang jualan juga, berbagai minuman ringan (soft drink) dan snack terlihat berjejer rapi menggoda setiap mata yang melihat untuk mengecapnya.

Tapi tampaknya tak ada yang lebih nikmat dari bermalas-malasan di tenda dan ngobrol dengan teman-teman sambil menghangatkan badan dengan segelas kopi panas yang baru saja diseduh oleh bapak porter. Ngomong soal porter, paket porter Rinjani sangat komplit, mulai dari mengangkat perlengkapan selama pendakian, menemani di jalan, mendirikan dan membongkar tenda sampai memasak mereka lakoni.

Menjelang sore hari, dengan perut kenyang dan badan yang hangat, otot-otot pun sudah terasa mulai rileks, kami yang membawa kamera sudah sibuk menyiapkan perlengkapan untuk menyongsong momen sunset di Plawangan Sembalun

Plawangan Sembalun sunset

Dini hari nanti kami berencana untuk summit attack, makan malam dan semua kegiatan dilakukan lebih awal agar waktu yang tersisa cukup untuk istirahat. Namun rasanya sangat sulit untuk melelapkan diri dalam tidur malam itu, mata sudah dipejamkan dan tubuh pun  sudah diposisikan dengan seenak mungkin tapi tetap saja pikiran ini lari kemana-mana, entah karena euforia akan muncak dini hari nanti atau mungkin masih terkena sihir alam rinjani yang sejauh ini begitu indah dan menakjubkan

Tanpa terasa ternyata sudah waktunya untuk muncak…rasa lelah memaksakan tubuh untuk istirahat sempat membuat saya malas-malasan di tenda dan terlintas pikiran untuk tidur saja. Tapi godaan untuk menapaki puncak rinjani begitu kuat, dan bukan hanya saya tapi semua team pendakian ini pun terlihat begitu bersemangat walaupun terlihat cukup jelas juga kelelahan disemua wajah dini hari itu. Setapak demi setapak kami berjalan, cukup ramai juga yang mendaki saat itu terlihat dari lampu senter yang tampak saling berebut memancarkan sinarnya di sepanjang jalur menuju puncak. Tampaknya niat untuk melihat sunrise dari puncak rinjani tidak akan bisa diwujudkan karena kami masih berada cukup jauh dari puncak saat di ufuk timur mulai terlihat semburat warna-warni pertanda sang mentari akan segera menyapa hari

Dengan tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa, kamera dan perlengkapannya saya siapkan untuk berusaha mengabadikan moment sunrise pagi itu

sunrise rinjani

Perjalanan masih belum selesai, puncak sudah terlihat jelas tapi rasanya sangat sulit untuk menggapainya. Jalur menjelang puncak menyempit dengan kiri-kanan jurang, strukturnya berpasir dengan kerikil-kerikil yang sangat mudah merosot saat dipijak membuat langkah seakan-akan tidak maju sedikitpun walau sudah berusaha untuk terus maju.

Jalur Puncak Rinjani

sekali-sekali tubuh ini terpaksa harus merangkak agar bisa terus maju, bahkan harus berhenti sejenak untuk sekedar mengambil nafas yang rasanya makin berat atau sekedar meluruskan kaki yang rasanya sudah tidak mau digerakkan lagi. Sambil duduk, sekali-sekali saya keluarkan kamera dan mengabadikan beberapa bagian yang menarik yang hanya bisa dilihat dari puncak rinjani

View dari rinjani

Para pendaki lainnya yang istirahat dekat saya pun tak luput dari jepretan kamera

Para pendaki

Setelah perjuangkan panjang akhirnya saya sampai di puncak….perasaan campur aduk memenuhi kepala ini, senang, sedih, lelah, takjub dan lainnya saling berebutan untuk saling menguasai, sulit rasanya diungkapkan dengan kata-kata.

Kawah Rinjani

Puji syukur kepada Tuhan YME, kami semua berhasil sampai ke puncak. Mas Teddy yang merupakan peserta paling senior menjadi peserta terakhir yang berhasil mencapai puncak (salah satu peserta lainnya, Kintan adalah anak dari Mas Teddy yang masih duduk di kelas 1 SMA). Semangat yang luar biasa dari seseorang yang sudah 20 tahun lebih tidak pernah naik gunung lagi, bahkan kami semua mengira Mas Teddy tidak akan mau sampai ke puncak karena memang sangat melelahkan.

Hari semakin terik dan angin pun semakin kencang, kami segera turun setelah puas berfoto dan juga melepas lelah. Melihat jalur turun ternyata cukup jauh juga, sangat bersyukur rasanya kami dikuatkan untuk bisa sampai ke puncak dengan selamat

dari puncak rinjani
Sesampai di tenda, kami tidak punya cukup waktu untuk bersantai-santai karena harus segera turun ke danau segara anakan agar tidak kemalaman sampainya, cukup berbahaya kalau malam karena jalurnya cukup curang dibeberapa bagian.

Menuju Segara Anakan

Di jalur turun ini saya, Paul dan Alex sempat salah jalur. Hampir saja kami melewati jalur curam yang sangat berbahaya, syukurlah ada rombongan lainnya di belakang kami yang melintasi jalur yang benar tidak jauh dari tempat kami menunggu. Berjalan beriringan dengan mereka akhirnya kami sampai di camping ground tepian segara anak, hari sudah gelap dan dingin. Tidak banyak yang kami lakukan, hanya istirahat karena sangat lelah dari muncak belum sempat istirahat yang cukup, setelah makan malam semuanya langsung masuk tenda dan sibuk sendiri dengan mimpinya masing-masing

Malam itu adalah malam terbaik untuk tidur saya selama mendaki rinjani, tidur nyenyak sekali dan terasa sangat segar paginya.

Pagi itu kami tidak akan berlama-lama di Segara Anakan karena harus melanjutkan perjalanan turun lewat jalur Senaru, waktu yang singkat ini tidak boleh disia-siakan. Saya sangat ingin sekali melihat air terjun dan sekaligus tempat pemandian air panas alami yang ada di aliran Segara Anakan yang dari semalam sudah membuat penasaran dengan suara deburan airnya yang samar-samar terdengar di tenda.

Pagi itu sungguh indah sekali pemandangan di sekitar Segara Anak, tak henti-hentinya saya dibuat takjub oleh alam Rinjani

Aliran Segara Anak

air terjun

Rencana untuk mulai turun pukul 7 pagi jadi molor sampai pukul 10an, tapi tampak senyum kepuasan dari teman-teman yang sudah sempat mandi dan berendam di air hangat. Karena terletak dicerukan, dari segara anak kami harus melalui jalur mendaki ke plawangan senaru untuk terus turun sampai desa senaru.

Pagi menjelang siang itu agak mendung dan sempat turun gerimis, berjalan cukup pelan membuat kami sampai agak siang di plawangan senaru, konon katanya pemandangan paling indah dapat dilihat dari sini, kita bisa melihat danau segara anak dan gunung baru jari dengan puncak rinjani sebagai background nya. Namun sangat disayangkan siang itu hanya terlihat putih saja karena tertutup kabut yang sepertinya enggan untuk beranjak walaupun hanya sebentar

Tidak berlama-lama di plawangan sembalun, kami melanjutkan jalan turun sampai ke pos 3, dimana kami akan istirahat dan menikmati makan terakhir di rinjani, makan siang yang terlambat karen sudah cukup sore sampai di pos 3.

Pos 3

Setelah semua kenyang dan barang-barang dibereskan, hari sudah mulai gelap sekitar habis maghrib kami melanjutkan jalan turun. Berjalan dengan bantuan senter cukup membatasi gerak kami dan memaksa kami lebih fokus agar tidak tersandung atau salah jalan tapi memang tidak ada yang bisa dilihat juga ditengah kegelapan malam itu selain jalan setapak yang sepertinya tak kunjung habis.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada sekitar pukul 01.00 dini hari kami melihat sebuah gapura yang cukup besar, senang sekali rasanya, kami saling bersalaman dan bahkan berpelukan menyelamatkan satu sama lain atas semua yang telah kami lalui sampai akhirnya bisa menyelesaikan pendakian ini. Namun memang agak aneh kondisinya karena tempat itu sepi, para pedagang pun tampak sudah terlelap di sekitar lapak mereka dan suasana cukup gelap, pun kami tidak melihat ada mobil atau motor sekitar tempat itu. Ternyata perjalanan belum berakhir, guide kami mengatakan masih harus berjalan sekitar 1 jam lagi untuk sampai di post lapor dan tempat parkir. Arrghh…ternyata selebrasi kami terlalu cepat, masih ada 1 jam lagi yang harus kami lalui. Sudah terbayang beratnya sejam kedepan, tapi tidak ada pilihan lain untuk istirahat atau menunggu sampai pagi disini karena kami harus ke mataram untuk selanjutkan meneruskan flight ke jakarta

Sekitar pukul 2 dini hari, kami pun akhirnya sampai di post lapor senaru dengan selamat. Semua tampak sangat kelelahan dan mengantuk, tapi dalam hati rasanya sangat bersyukur dimampukan mengalami perjalanan ini

Sampai ketemu lagi Rinjani, belum puas rasanya menikmati buaian keindahan alammu

Posted in Traveling | Leave a comment