Alangkah Lucunya (Negeri ini)..

Kemarin malam sehabis pulang kantor, saya ikut ajakan teman-teman untuk nonton bioskop, lagi pengen soalnya sudah lama ga ke bioskop, kita nonton Alangkah Lucunya (Negeri ini).

Tadinya saya lebih prefer nonton film2 holiwud seperti clash of the titans, the book of eli dll, lebih terjamin kayanya dibanding film-film lokal yang sering konsepnya cetek banget dan keliatan ‘murah’nya (film holiwud kalopun yang cetek konsepnya tapi paling ga efeknya bagus 🙂 ). Mohon maap kalo menyinggung perasaan insan perfileman dalam negri (duhh bahasanya.. 🙂 ) tapi kita harus bercermin pada kenyataanlahh, jangan malu mengakui kekurangan kita, dan yang terpenting ayo berubah dan menjadi lebih baik. Namun demikian, banyak juga kok film2 nasional yang mantab banget dan sangat mendidik, semacam laskar pelangi, denias, AADC 😀 , king, dan salah satunya yang saya tonton kemarin malam “Alangkah Lucunya (Negeri ini)”.. recommended dehh

Saya masuk paling terakhir karena memang terpisah dari rombongan, pas masuk saya senyum2 sendiri, hampir kosong tuh bioskop 😀 ternyata pernyataan saya di atas tentang film lokal ada benarnya juga 🙂

Film ini dimulai dengan adegan muluk yang diperankan Reza Rahadian mencari-cari pekerjaan keliling jakarta yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan dan perkenalannya dengan kelompok copet anak-anak, saya pribadi suka dengan cara pengambilan gambarnya yang sepertinya sejak awal sampai akhir sengaja ingin menunjukan kesenjangan kehidupan di Jakarta, satu sisi sangat kumuh dan kacau sedangkan sisi lain begitu megah dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Film ini menyuguhkan cerita kehidupan sehari-hari ‘rakyat kecil’ dengan pilihan-pilihan yang sulit untuk bisa bertahan hidup, perdebatan mengenai penting atau tidaknya pendidikan, dan tentunya tentang keadilan dan pembelaan bagi rakyat kecil merujuk pada UUD 1945 pasal 34  ayat  1. Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara

Demi harga diri dan juga keinginan untuk menyenangkan orantua (bukan karena ga makan soalnya ayah muluk yang diperankan Deddy Mizwar masih bisa mencari makan dengan pekerjaannya sebagai tukang jahit), muluk akhirnya memutuskan untuk mengelola penghasilan kelompok copet anak-anak ini dengan meminta porsi 10% sebagai upahnya. Alur cerita dibagian ini terlihat sekali terlalu dibuat-buat, mana ada sih orang menawarkan diri untuk me-manage duit hasil copet, berhasil pula, sampai bisa mengajak teman-temannya (Samsul dan Pipit) yang nganggur untuk join mengajarkan anak-anak pencopet itu (pendidikan umum dan agama) 😀 trus yang jadi boss pencopet anak-anak ini juga baik banget 🙂 tapi ya namanya juga film, yang pentingkan pesannya sampai.. yupp bener banget nihh, pesan dari film ini nyampe dan sangat jelas, itu bagian yang paling saya suka.

Antiklimaks film ini saat orang tua dan calon mertua Muluk dan juga orang tua Pipit mengunjungi tempat kerja mereka yang mana sebelumnya Muluk hanya mengatakan kalau dia bekerja di bagian ‘pengembangan sumber daya manusia’. Keberhasilan mereka membuat anak-anak copet mulai bisa baca-tulis dan faham akan agama yang mana pada saat itu mereka sedang launching “6 copet yang akan berubah menjadi 6 pedagang asongan” seakan-akan menjadi sia-sia tak kala ketiga orang tua itu malah sedih dan mengutuki diri mereka yang sudah makan dan minum dari uang ‘haram’ hasil copet sambil memohon-mohon ampun kepada Tuhan.

Film ini begitu sarat dengan kritikan-kritikan pedas yang dikemas dengan cara lucu, sebut saja waktu anak-anak pencopet yang malas belajar kemudian diberi pengertian dengan cara mengambil permisalan koruptor “kalau jadi copet yang bodoh ga bisa kaya, tapi kalo pintar bisa jadi koruptor yang punya banyak uang, walaupun dipenjara kalau ketahuan tapi setelah keluar penjara masih punya banyak uang, ga kaya pencopet bodoh yang bisa-bisa mati dikeroyok massa atau di-dor sama aparat” anak-anakpun jadi semangat belajar sambil berteriak “saya mau jadi koruptor, hidup koruptor” ada juga adegan mengunjungi gedung MPR/DPR, tempat wakil rakyat yang terhormat, tempat orang-orang berpendidikan, dan bisa korupsi juga 🙂 dengan santainya seorang anak mengatakan “kita kan sudah berpendidikan, kita bisa juga dong berada di sana” lalu ada juga adegan Jupri si calon anggota DPRD saingan Muluk (untuk dapetin Rahma anak Haji Sarbini) yang bawa laptop dan nunjukin screen saver aquarium dengan takjubnya ke Rahma dan Haji Sarbini sambil berkata dan menirukan “berenang, berenang”,  kemudian ada juga adegan saat seorang anak tidak mau belajar, lalu ditampar oleh si boss dengan berkata “masih ingat kejadian di kalibata mall, kalo lo bisa baca lo ga akan lari kearah yang salah (sambil menunjukan tanda –> 50m polisi)” kemudian saat Muluk, Pipit dan Samsul akhirnya memutuskan untuk berhenti setelah merasa bersalah terhadap orang tua mereka, saat mereka ingin mengembalikan semua milik kelompok copet itu dan mengunjungi markas copet untuk terakhir kali, seorang anak pencopet pulang dengan pakaian koko selepas  sholat di mesjid, Samsul dan Pipit sangat senang karena ternyata ada hasilnya juga ajaran mereka selama ini dan saat melihat sandalnya yang bagus, Samsul pun bertanya dengan lugunya “wahh, sandal kamu bagus ya” si anak pun menjawab dengan enteng tanpa rasa bersalah “Iya, tadi saya ambil di mesjid” 🙂 dan banyak lagi yang lainnya.

Saya pribadi ingin memberikan sorotan yang lebih kepada 2 orang sarjana dalam film ini, Samsul si sarjana pendidikan dan Muluk si sarjana manajemen.. ini sudah menjadi issue yang klasik dimana setiap orang ingin bekerja sesuai dengan background pendidikannya tapi sangat disayangkan kenapa kedua orang ini begitu terjebak harus bekerja sesuai dengan bidang mereka dan saat Muluk ingin ternak cacing malah ditertawakan “sarjana management kok ternak cacing”, saat ditawari buka warung “sarjana management kok jualan di kios” so what gitu lohh, salah ya kalo sarjana buka usaha atau kerja di bidang yang beda dengan background pendidikannya?? justru yang kita perlukan di negara ini, sarjana yang bisa membuka lapangan pekerjaan, bukan yang menggantungkan diri pada perusahaan2 yang sudah ada (kayak saya :D) dan kalaupun harus bekerja di perusahaan, yang penting keterima dan bisa kerja, mau bidangnya sesuai atau ga, itu masalah belakangan, kan bisa belajar (kayak saya lagi :D)

Back to topic lagi 🙂 akhir ceritanya sangat bagus menurut saya, memang gantung banget (padahal saya biasanya ga suka dengan akhir yang gantung dan sad ending) tapi ini mempertegas dan menguatkan pesan yang ingin disampikan, “inilah kondisi bangsa kita, belum selesai, harus ditindaklanjuti, masih banyak ketidakadilan, bangsa ini perlu untuk diperbaiki”. Ada kata-kata yang sangat saya sukai “ini negara bebas, yang mau nyopet, nyopet, yang mau ngasong, ngasong” benar-benar menggambarkan kondisi bangsa kita saat ini..demokrasi dan individualisme berjalan beriring dan sangat sulit untuk dibedakan/ dipisahkan.

Akhir film ditandai dengan pesan “mau lo salah (nyopet) atau bener (ngasong) sama-sama dikejar-kejar, bedanya yang satu oleh massa, satunya lagi oleh tramtib karena lo orang kecil ga kayak bapak/ibu dewan yang terhormat atau bapak/ibu pejabat yang mentereng disono” sambil diringi lagu

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

duhhh..pipi saya basah, batin saya bergejolak dan berteriak.. ya Tuhan kasihanilah bangsa ini, kalau saya punya kesempatan untuk melayani negeri ini, biarlah saya benar-benar mengabdi.

Advertisements
This entry was posted in Other. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s