Ekspedisi Gunung Gede

Well, bagi yang sudah biasa mungkin gunung gede bak halaman belakang rumah tapi bagi yang baru pertama kali kesana seperti saya tidak terlalu berlebihan kalau perjalanan naik gunung ini saya sebut sebuah ekspedisi

Naik gunung sebenarnya bukan sesuatu yang saya sukai, ngapain cape-cape naik gunung trus turun lagi 😀 tapi karena penasaran, saya ingn mencoba supaya tahu dan tidak judge the book from its cover

Adalah teman-teman dari club adventure di kantor yang mengadakan acara ini tapi dibuka untuk seluruh karyawan yang berminat. Kami pun diminta untuk persiapan dari jauh-jauh hari, dianjurkan untuk latihan naik turun tangga untuk membiasakan diri, kemudian jaga kesehatan supaya fit waktu naik nanti.

Jumat malam sekitar pukul 7 kami pun berkumpul dan melakukan packing, baik untuk barang-barang pribadi maupun carrier untuk para porter, sedikit lucu juga waktu packing karena ternyata makanan yang dibawa banyak banget 🙂 “ini piknik atau naik gunung” seloroh seorang adventurer yang tidak bisa ikut tapi membantu segala persiapan dan kesiapan para perserta.

Saya sama sekali buta perihal gunung gede, jadi ngikut aja apa yang dibilang oleh para panitia. Awalnya kami rencananya akan naik lewat puncak sela, katanya sih ini bukan jalur resmi tapi jalur penduduk sekitar untuk berburu..keren juga sepertinya kalau lewat sini, lebih berasa adventure pastinya 🙂 tapi karena beberapa pertimbangan, salah satunya karena banyaknya peserta yang masih ‘hijau’ seperti saya dan sulitnya melakukan kontrol terhadap 22 orang perserta, akhirnya diputuskan lewat gunung putri, bukan jalur yang terlalu populer juga katanya karena biasanya orang, khususnya para wisatawan lebih suka lewat jalur cibodas yang lebih landai dan lebih banyak obyek wisata seperti air terjun dan air panas yang tidak ditemui lewat jalur lain, walaupun lebih jauh jaraknya ke puncak gede dibanding jalur gunung putri. Sekali lagi ini katanya loh, saya sendiri baru lewat gunung putri saja

Kami sampai di rumah mamang porter sekitar pukul 12 malam dan langsung bersiap untuk istirahat. Besok pagi sekitar pukul 4 sudah mulai ramai persiapan untuk pendakian, bener-bener kurang tidur euyy, paling cuma 2-3 jam 😦

Setelah pemanasan dan sarapan, kami pun berangkat sekitar pukul 06.20

Udara terasa sejuk dan sangat segar, tak lupa kamera selalu dalam posisi on 🙂 sebenarnya tujuan saya selain adventure adalah untuk hunting foto, jadi tidak heran kalau total foto saya selama acara naik gunung ini sampai 600-an foto 😀

Sebelum naik, kami harus melapor dan mendaftar dulu ke Pos Jaga dan mendapatkan ceramah singkat mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dibawa dan lakukan, karena termasuk cagar alam maka aturannya cukup ketat (ternyata bawa sabun dan sejenisnya tidak boleh loh)

Kamipun mulai perjalanan ini, saya bersyukur karena sudah kenal dengan lumanyan banyak peserta walaupun masih banyak yang baru kenal juga. Seperti biasa, awal-awal masih pada jaim 🙂 tapi lama-lama sekat-sekat itu mulai hilang dan jadinya malah jadi dekat satu sama lain, bahkan sampai sekarang loh..

Perjalanan pagi itu cukup melelahkan tapi tetap fun, semua moment yang menurut saya okay tidak lupa saya abadikan dan pastinya semua yang jalan bareng saya paling banyak foto-nya 😀

Kami benar-benar bersyukur ada pak porter, perlengkapan kelompok (dan ada juga sebagian perlengkapan pribadi 🙂 ) yang berat-berat dibawa oleh beliau-beliau

Ditengah perjalanan, hujan pun turun..duhhh, kamera harus dimasukan :(, harus pakai jas hujan juga, dinginnnn dan rasanya lapar banget. Untung sudah sampai di pos tempat makan siang, mulai dehh membentangkan flysheet dan masak air dan mie, nikmattt benar makan siang itu, 20-an orang bisa makan dengan kenyang hanya dengan nasi dan sekitar 3 bungkus mie + teri-kacang di toples kecil 😀

Hujan mulai agak reda dan waktunya harus naik lagi, jalannya makin curam setelah itu, kaki mulai pegel-pegel. Kabut pun turun dan naik dan cuaca selalu berubah tidak tentu, kondisi sekitar begitu lembab..tapi saya suka saat-saat itu, waktu hujan sedang reda tidak lupa saya mengabadikan saat-saat hutan berkabut yang begitu mistik kesannya

Akhirnya..sampai juga kami di lembah Surya Kencana, senang rasanya setelah berjam-jam dalam naungan hutan yang remang-remang akhirnya dapat melihat hamparan padang yang beratapkan langit yang luas dan terbuka. Waktu sampai di Surya Kencana, suasanya masih berkabut dan banyak pendaki-pendaki lainnya yang sedang istirahat disana

Kami pun langsung merebahkan diri, berbaring diantara kabut-kabut dan hamparan edelweiss  sambil menunggu peserta yang masih jauh dibelakang. Kabutpun berangsur-angsur hilang di depan kami walaupun dibagian belakang masih tebal, cuaca di depan kami begitu cerah dengan langit biru terhampar di atas bukit

Bisa ditebak deh, semua langsung pasang gaya masing-masing, bernarsis ria 😀

Saya tidak mau ketinggalan juga 😀

Menjelang sore, dan setelah semua perserta puas berfoto-foto ria, kami harus berjalan lagi sekitar 1/2 jam menuju ke tenda (terima kasih kepada beberapa orang yang sudah sampai duluan dan menyiapkan tenda 😀 )

Tapi…ada yang anehh lohh, jalannya begitu rapih di lembah itu, seperti buatan gitu dehh..jangan-jangan legenda itu benar..hiiii 😀

Kamipun segera menyiapkan diri untuk masak makan malam dan istirahat secepatnya karena besok pagi-pagi benar harus bangun lagi kalau mau ikut ke puncak gunung gede

Sekitar pukul 04.00 besok paginya kamipun mulai naik ke puncak dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam melewati jalan yang curam. Sedikit disayangkan karena saya tidak sempat capture suasana subuh dimana lampu2 dikejauhan masih menyala dengan foreground gunung pangrango. Tapi cukup banyak juga moment yang dapat saya abadikan saat itu, sampai lupa diri, jalan kesana-kemari, foto ini dan itu dengan berbagai posisi 😀

Benar-benar terbayarkan semua rasa lelah selama pendakian dengan pemandangan yang begitu indah dan suasana yang begitu menyegarkan, memang negeri ini sangat indah 😀

Pukul 8 pagi, kami sudah harus turun ke tenda untuk sarapan supaya bisa turun gunung secepatnya. Berikut adalah lembah Surya Kencana tampat kami mendirikan tenda dilihat dari puncak

Wahh..dijalan kami bertemu anak-anak berumur 9 tahun yang naik sampai ke puncak lohh, hebatt

Kamipun mulai berjalan pulang setelah sarapan, cuci piring dan tempat masak (pakai plastik dan pasir, ga boleh pakai sabun, jadi deh tangan berminyak dan hitam..hikss)

Turun terasa jauh lebih ringan dari pendakian sehari sebelumnya, mengikuti saran pak porter yang mengatakan “kalau turun jangan ditahan-tahan biar ga sakit kakinya, kalo bisa lari saja” memang benar, waktu tempuh jadi setengah dari waktu pendakian, walaupun harus ekstra hati-hati supaya kaki jangan sampai tersangkut akar pohon

Tak lupa foto dulu di gerbang sebelum meninggalkan pos 1

Akhirnya sampai juga di perkampungan penduduk, tak lupa lapor dulu ke Pos Jaga sebelum menuju titik kumpul, rumah pak porter

Ternyata naik gunung seru lohh, dengan syarat pesertanya banyak supaya rame 😀 yang pasti, dengan segala keletihan dan situasi yang jauh dari kenyamanan sangat memupuk tali persaudaraan dan kekompakan antara satu dengan lainnya.

Jadi..kapan lagi nihh kita naik gunung?? 😀

Advertisements
This entry was posted in Traveling. Bookmark the permalink.

One Response to Ekspedisi Gunung Gede

  1. Andre Pane says:

    Like this bgt…next klo jalan2 lg, gw deket2 lo d bro biar banyak pic-nya…heheheeee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s