Trip to Lombok

Setelah sekian lama memimpikan untuk menginjakkan kaki di Lombok, akhirnya kesampaian juga bulan February kemarin.

Jauh-jauh hari sebelum trip ini sudah tidak sabar rasanya untuk segera melihat Lombok yang menurut beberapa teman lebih natural dibanding Bali. Jumat sore itu, saya langsung berangkat menuju bandara sehabis jam kantor. Well, sebenarnya sebelum jam pulang sih, tepatnya pukul 4 sore dan karena buru-buru karena takut terjebak macet plus ditambah boss sedang sibuk meeting juga akhirnya saya nekat ijin melalui email dan bisa ditebak, saya kena semprot di email tersebut (yang penting sudah di jalan menuju bandara) ๐Ÿ˜€

Trip kali ini cukup ramai, ada 28 orang yang berangkat. Kebanyakan teman-teman kantor sih, dan temanya pun beragam, ada yang ikut karena mau diving, ada yang lagi ujian buat sertifikat diving, ada yang moto-moto dan ada juga yang sekedar jalan-jalan dan refreshing setelah lelah dan bosan bekerja.

Kami menginap di Senggigi, karena besoknya pagi-pagi kami akan berangkat menuju Gili Trawangan dan Senggigi merupakan ‘kota’ yang paling dekat dengan dermaga menuju ke Gili Trawangan.

Paginya sebelum sarapan sempat foto-foto di pantai sekitar hotel, sedikit mendung alias flat warna langitnya..semoga saja tidak hujan. Para penjaja pernak-pernik khas lombok pun sudah mulai ramai menawarkan barang-barang mereka, yang paling mencolok tentu saja pernak-pernik perhiasan mutiara..tampak beberapa rekan sudah mulai nyicil beli ini itu untuk oleh-oleh, takut ga sempat kata mereka.

Perjalan menuju Gili Trawangan cukup mudah, dari hotel kami menuju dermaga (sempat nyasar juga sih) sekitar 30 menit dan dari dermaga hanya sekitar 30-40 menit sudah sampai ke Gili Trawangan. Well, benar-benar alami sih atau lebih tepatnya suasananya ‘kampung’ banget, sangat nyaman untuk santai-santai dan bermalas-malas ria ๐Ÿ˜€

Disetiap sudut jalan hampir semuanya bule, serasa ga di indonesia selama disana saking banyaknya turis. Ternyata properti disana juga banyak yang dimiliki oleh orang asing, dari hotel, bar, kapal sampai service tour dan travel hampir semuanya punya orang asing. Kok bisa?? nahh biasanya mereka nikah dengan orang lokal dan mengatasnamakan istri/ suaminya yang lokal agar tidak melanggar regulasi. saya jadi teringat kejadian waktu makan siang di warung (semacam warteg gitu) sehabis snorkeling sesi pertama (pagi) saya sempat ngobrol dengan si ibu penjual, ternyata beliau adalah orang lombok dan warung itu dia kontrak dari orang bule ๐Ÿ˜€ lucu ya, tapi tragis

O iya, untuk hargapun ada 2 jenis di sini, ada harga untuk turis local dan harga untuk turis non local.. cukup significant juga bedanya (bisa 4 kali lipatnya local)

hari pertama di Gili Trawangan kami habiskan dengan snorkeling dan diving bagi yang sudah boleh diving, tapi sehabis makan siang saya dan beberapa teman pengen jalan-jalan keliling Trawangan, cape juga snorkeling paginya dan spotnya juga ga beda jauh antara yang sore dan pagi. setelah tanya sana-sini, kami memutuskan menuju sunset bar, katanya ada bekas hotel yang sudah tidak dipakai dan bagus untuk spot foto sunset (maklum, tukang foto juga ๐Ÿ˜› )..kami menggunakan cidomo (semacam andong gitu), di Gili tidak ada mobil, motorpun seingat saya ga ada (atau saya yang ga merhatiin ya), cuma sepeda dan cidomo yang ditarik kuda sebagai mode transportasi dan kapal tentunya untuk antar pulau.

malamnya kami memutuskan untuk jalan menuju ke hotel (agak terpaksa sih tapi pengen santai dan ga naik cidomo), lumayan jauh dan melelahkan tapi jadinya dapat banyak pemandangan yang bagus, di sekitar ujung pulau memang sepi dan gelap tapi mendekati pemukiman dan komplek hotel benar-benar rame, kiri-kanan banyak resto ataupun warung-warung..makanannya pun cukup bervariasi dari yang susah disebut sampai santapan lokal semacam mie ayam dan bakso. Di beberapa resto ada live music dan ada beberapa tempat yang memang disiapkan untuk joget-joget (dugem ala Trawangan) ๐Ÿ˜€

Besoknya kami melanjutkan rutinitas nyebur ke luat (baca: snorkeling dan diving), jokenya mengenai Gili..siangnya nyebur, malamnya hura-hura ๐Ÿ˜€

Hari itu kami rencananya meninggalkan Trawangan dan mencoba explore lebih dekat Gili Meno (Gili Trawangan, Meno dan Air berdekatan kok, hanya sepeminuman teh jaraknya ๐Ÿ˜€ ). Hari itu kami snorkeling ke lokasi yang cukup bervariasi, tadinya pengen nyari penyu tapi ga kunjung dapat ๐Ÿ˜ฆ snorkeling terakhir menuju ke lokasi wreck (bangkai kapal), hanya bisa melihat dari atas saja sih karena belum boleh diving ๐Ÿ˜ฆ

Sorenya kami pulang ke Pulau utama (Lombok), sempat lama menunggu di dermaga menunggu bis jemputan yang ga kunjung datang. saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Pak Rudy yang sedang mancing di dermaga, beliau ternyata sudah 15 tahun lebih melakukan hobinya tersebut, hampir setiap minggu kalau sedang tidak ada kegiatan pasti beliau menyempatkan diri ke dermaga itu untuk sekedar melepas lelah dari rutinitas keseharian beliau yang membuka toko antik di kawasan pantai kuta. Jadi beliau adalah salah seorang saksi hidup perubahan ekologi maupun demography di sekitar dermaga tersebut, termasuk menyaksikan Gili Trawangan dan sekitarnya yang masih belum tersentuh sampai akhirnya di populerkan oleh tourist dari Jerman (atau belanda ya) di bukunya yang membuat banyak orang kesana.

Tentu saja ada efek positif dan negatifnya. Tapi Pak Rudi sepertinya lebih memilih menceritakan sisi negatifnya dimana banyak orang local yang menikah dengan tourist dan hanya dipakai sebagai akses untuk usaha di lombok, dan akhirnya uangnya dibawa keluar. Banyak juga pemakai-pemakai (claim beliau, hampir semua tourist yang ada di Gili Trawangan adalah pemakai, termasuk juga orang local yang akhirnya ikut-ikutan), membahas Gili kami pun sempat juga diskusi mengenai politik di Lombok maupun di Negara ini, dari kasus Gayus, kerusuhan du Lombok yang berbau Sara sampai menceritakan mengenai pengalaman beliau sebagai tim sukses partai tertentu dan membantu rekannya menjadi walikota di salah satu kotamadya di Lombok, kesimpulannya beliau muak dengan politik ๐Ÿ˜€ semuanya uang dan uang.. *sedikit mirip dengan saya yang dari dulu sudah muak dengan bullsh*t politik ๐Ÿ˜€

Malam itu kami akan menginap di Mataram, namun sebelumnya kami ingin mencicipi menu yang terkenal di Lombok, Ayam Taliwang..nyam..nyamm, walaupun sebenarnya saya memilih untuk mandi dulu karena dari siangnya belum bersih-bersih…masih hasil dari nyemplung ke laut, rambut keras, kulit masih asin dan yang lebih parah..pakaian masih basah/ lembab

Tapi ternyata Mataram cukup jauh, sekitar 2 jam lebih mungkin dari dermaga itu..paling tidak dengan makan dulu satu masalah diselesaikan..masalah perut ๐Ÿ˜€

Besoknya tiga orang rombongan akan kembali ke Jakarta dulu naik pesawat pagi karena akan langsung masuk kerja hari senin itu ๐Ÿ˜€ saya tentu saja cuti..kapan lagi bisa libur panjang di lombok.. Hari senin itu bagi yang belum pulang, sebagian pergi ke Gili Nanggu untuk nyemplung lagi, saya pengen nyoba nyelam..karena belum ada license maka saya harus mengambil yang namanya discovery diving, hanya pengenalan akan diving dan diving hanya beberapa meter saja. Sebagian ada yang ingin melihat sisi lain lombok selain lautnya (sebenarnya mereka pengen hunting foto sih :D) dan ada juga yang ingin trip private ๐Ÿ˜›

Sore sampai malam kami habiskan untuk hunting oleh-oleh, saya membeli beberapa kaos dan kemeja, pernak-pernik mutiara, madu dan makanan. Malamnya kami berburu makanan di Senggigi, sambil membuat acara valentine kecil-kecilan (ternyata hari itu hari valentine :D).

Sekitar pukul 00.00 kami pun kembali ke hotel tapi bagi sebagian teman (termasuk saya :P) sangat sayang menyia-nyiakan waktu yang tersisa beberapa jam saja di lombok, kami pun menghabiskan sisa malam itu di sebuah cafe di Senggigi sambil menunggu pukul 4 pagi untuk siap-siap ke bandara karena flight kami pukul 6 pagi, well hitung-hitung menambah pengalaman melihat kehidupan malam di Senggigi ๐Ÿ˜€

Selasa pagi itu kami pun kembali ke Jakarta, lelah dan ngantuk banget rasanya… tapi puas berlibur panjang ke Lombok.. jadi semakin pengen jalan-jalan keliling Indonesia, negeriku yang indah dan (harusnya) permai..

Advertisements
This entry was posted in Traveling. Bookmark the permalink.

6 Responses to Trip to Lombok

  1. soba says:

    izin ambil gambar mas,,coz mw belajar ng’dit,,makasih mass..:)

  2. adit says:

    terimakasih anda sudah berlibur ke pulau kami LOMBOK,,semoga anda puas,,dan kami harap anda bisa kembali kesini lagi,,:D

    • untung sihombing says:

      yupp..sangat menyenangkan trip ke lombok, gili2nya benar-benar tempat yang tepat untuk leisure.. pengen kembali lagi tentunya ๐Ÿ˜‰

  3. adit says:

    OOke,,,siiipppp,,,
    kapan mainlah ke lombok tengah sejalur ke Gunung Rinjani,,di sana tidak kalah menarik dengan pulau 3 Dara (GILI),,
    saya dari sekolah PARIWISATA MATARAM,,bila anda butuh travel langsung saja menuju Kampus kami,,:D
    terimakasih..
    oh ya,,sekarang semakin di permudah dengan adanya Bandara International Lombok,,yahh,,cuman ingin memberi tahu saja,,:D

  4. soba says:

    makasih mass,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s