Kawah Ijen, antara keindahan dan perjuangan hidup

Kawah Ijen adalah salah satu lokasi favorit para traveler maupun fotografer di Jawa Timur, lokasinya yang di sekitar ujung timur pulau Jawa (Banyuwangi) membutuhkan usaha tambahan untuk mencapainya dari Surabaya, bahkan jika dihitung-hitung rasanya lebih dekat ke arah Bali dibanding ke Surabaya. Namun untuk kami yang datang dari Jakarta, opsi dari Surabaya sepertinya merupakan pilihan yang paling baik mengingat harga tiket yang lebih murah menuju ke Surabaya dibanding menuju ke Denpasar. Dari Surabaya kami menyewa mobil yang akan kami gunakan selama 3 hari ke depan (Kawah Ijen hanya salah satu dari 3 tempat yang akan kami tuju dalam trip kali ini), sebenarnya ada opsi kereta dari Surabaya ke Banyuwangi juga, bahkan jika memang biaya tidak menjadi masalah, ada rute penerbangan dengan pesawat kecil juga menuju ke Banyuwangi.

Salah satu alasan lainnya kami memilih lewat Surabaya adalah banyak tempat-tempat kuliner yang bisa kami singgahi sambil menuju kearah Ijen, dalam kesempatan ini kami sempat mampir ke salah satu warung tenda di daerah Sidoarjo, Rawon Gajah Mada. Bapak sopir ternyata sudah tahu tempat makan terbaik untuk mengisi perut kami malam itu, rawonnya benar-benar segar dan empuk.

Sekitar pukul 7 pagi keesokan harinya, kami memulai berjalan menuju Kawah Ijen. Ternyata sudah banyak yang kesana, bahkan dalam perjalanan naik kami bertemu banyak orang yang sudah turun, katanya memang lebih menarik untuk sampai di Kawah Ijen saat hari masih gelap agar bisa melihat pendaran cahaya belerang saat hari masih gelap.

Ijen 3KM

Perjalanan selama lebih kurang 2,5 jam cukup ramai, baik oleh pengunjung maupun para buruh angkut belerang yang bolak-balik ke/dari kawah, kemungkinan untuk tersesat sangat kecil karena jalurnya sangat jelas dan jalannya terbilang cukup lebar dan rapi.

Buruh Ijen

Awalnya saya mengira bahwa tambang belerang ini adalah tambang traditional milik rakyak, ternyata tambang ini (walaupun masih traditional) milik sebuah perusahaan tambang swasta PT Candi Ngrimbi, sebagai pemegang ijin tunggal dari pemda setempat. Setiap kilogram belerang ini dihargai sekitar 600-700 rupiah dan para buruh ini dibayar sesuai dengan belerang yang mampu mereka angkut setiap harinya

Semakin mendekati pinggiran kawah semakin menakjubkan pemandangannya, ingin rasanya lebih lama menikmati dan mengabadikan keindahannya tapi kami masih memiliki tujuan berikutnya sehingga harus bergegas. Tak jarang pula kami bertemu beberapa buruh angkut belerang yang kelelahan ataupun cidera karena fisik yang sudah mulai menurun ditelan usia ataupun karena kelebihan beban yang terus-menerus dipaksakan. Dari beberapa orang buruh angkut yang kami tanyakan, rata-rata mereka sudah bekerja selama 5 tahun lebih sebagai buruh angkut, beberapa bahkan sudah belasan sampai 20 tahunan melakoni pekerjaan ini

Buruh Ijen

Sesampainya di pinggir kawah, kami disambut asap belerang yang membuat nafas sesak dan mata perih, namun pemandangan yang luar biasa membuat kami sedikit tidak memperdulikan hal tersebut. Tidak puas hanya melihat dari atas, saya dan seorang teman pun turun ke pinggiran danau dengan bantuan 2 orang pekerja tambang yang menawarkan jasa guide + masker untuk melihat lebih dekat seperti apa proses penambangan belerang di Ijen

Kawah Ijen

Menuruni lereng yang curam ternyata cukup melelahkan terlebih jika angin bertiup mengarahkan asap belerang kearah kami, nafas yang tersenggal-senggal karena medan yang cukup sulit ditambah asap belerang yang membuat sesak dan mata perih benar-benar menyakitkan, tidak terbayangkan seperti apa rasanya jika memikul beban berpuluh kilogram turun dan naik melewati medan ini 2-3 kali dalam sehari, para buruh angkut ini harus diakui memang luar biasa kekuatannya.

Melihat proses penambangan dari dekat ternyata cukup sederhana cara kerjanya, gas belerang yang berasal dari perut bumi dialirkan ke pipa-pipa sepanjang beberapa meter yang bagian atasnya ditutup, sebagian dari gas ini akan melewati pipa tersebut dan mencair karena suhu udara yang lebih rendah, cairan inilah yang kemudian menjadi sumber belerang jika sudah kering, sedangkan sisanya yang masih berupa gas lah yang menjadi sumber asap belerang yang cukup menggangu pernafasan dan mata selama di pinggiran kawah dan dalam perjalanan ke danau Ijen.

Tambang Belerang

Penambang Belerang

Penambang Belerang

Setiap harinya ada pekerja yang bertugas untuk menjaga agar pipa-pipa ini tidak sumbat dan terus berfungsi untuk menghasilkan belerang. Berbeda dengan para buruh angkut, pekerja ini dibayar dengan skema gaji bulanan layaknya karyawan. Dari salah seorang pekerja yang saat itu sudah selesai shift nya saya mendapat informasi bahwa penghasilan pekerja ini tidak lebih dari dari buruh angkut sehingga biasanya mereka juga menjadi buruh angkut disela-sela waktu luang mereka setelah selesai shift

Pekerja Tambang Ijen

Jangan sekali-kali mencoba mencelupkan jari ke cairan belerang yang terlihat merah-kekuningan karena tangan anda akan melepuh dibuatnya, namun jika menggunakan wadah plastik cairan ini bisa diambil dan dimasukan ke cetakan-cetakan untuk membuat belerang dengan berbagai bentuk yang unik. Banyak diantara para buruh angkut yang membuat dan kemudian menjual sebagai cinderamata ke para pengunjung sambil mengangkut bongkahan-bongkahan besar belerang, lumayan sebagai tambahan penghasilan walaupun dari perusahaan akan marah dan melarang jika mengetahui mengenai hal ini

Cetakan belerang Cinderamata belerang

Setelah puas foto-foto dan juga berbincang dengan para pekerja dan buruh angkut, kami pun segera turun untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Itulah sekilas tentang Kawah Ijen, sebuah tontonan tentang keindahan alam dan perjuangan hidup, hal yang membuatnya memiliki daya tarik tersendiri untuk menjadi salah satu tempat yang selalu ingin dikunjungi setiap orang

Advertisements
This entry was posted in Traveling. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s