Taman Nasional Baluran

Akhirnya kesampaian juga ke Baluran, sudah sejak lama ingin ke sini dan sangat penasaran sama tempat yang dijuluki Afrika nya Jawa

Tentu saja ada alasan tempat ini dijuluki afrika nya jawa, savanna yang terdapat disana jika musim kemarau akan mengering dan memberikan pemandangan bak savanna di afrika, lengkap dengan rusa, kerbau dan banteng yang semuanya liar (bukan hasil penangkaran atau dipelihara ala istana bogor). Berbagai jenis burung pun banyak terdapat disana sehingga tempat ini sering juga dipakai untuk pengamatan burung. Namun bukannya menunggu musim kemarau, saya dan beberapa teman malah mengunjungi Baluran saat ditengah musim hujan jadi semakin penasaran lagi seperti apa rupanya karena difoto-foto hampir semuanya foto Baluran saat kemarau.

Letak pintu masuk TN Baluran langsung dipinggir jalan raya antara Situbondo dan Banyuwangi jadi tidak sulit untuk menemukannya, nah yang sulit adalah untuk masuk kedalamnya karena cukup jauh jika berjalan kaki, tapi jangan khawatir karena ada ojeg yang siap mengantarkan anda walaupun tentunya sangat dianjurkan membawa kendaran sendiri agar lebih bebas untuk explore atau carter motor/ mobil sehari penuh karena jarak antara 1 tempat dan lainnya cukup melelahkan jika berjalan kaki

TN Baluran

Salah satu tempat yang terkenal di Baluran adalah Bekol, tempat kita menikmati hamparan savanna dan merupakah salah satu lokasi yang terdapat tempat penginapan juga, pun sinyal handphone masih ada. kira-kira seperti ini pemandangan Savanna Bekol dimusim hujan

Savanna Bekol

Kemudian terus mengikuti jalan akan sampai di lokasi berikutnya yang berada di pinggir pantai, Bama. di Bama pun ada penginapan tapi tidak sebagus dan sebesar di Bekol, perlu dicatat juga untuk listrik hanya ada mulai pukul 6 sore sampai sekitar pukul 12 malam menggunakan genset yang terdapat disekitar penginapan. Cukup tersiksa jika anda terbiasa dengan ac dan lampu karena lampu tidak sampai pagi dan saat genset dimatikan benar-benar gelap walaupun memang ada emergency lamp yang bisa dinyalakan saat genset mati, nah satu hal yang tidak bisa dihindari adalah hawa panas karena kipas sudah tidak bisa dipakai, belum lagi nyamuk dan serangga-serangga yang cukup banyak dan sepertinya jarang dapat makanan sehingga sewaktu ada tamu yang menginap benar-benar dimanfaatkan dengan potimal 😀 di Bama ini sinyal dari operator manapun sudah tidak bisa diterima, benar-benar terasa terasing.

Untuk makan di Bama sangat mudah karena ada warung yang menyediakan nasi goreng dan soto, harganya pun tergolong normal untuk lokasi yang cukup “terpencil” seperti Bama tapi warung ini memang satu-satunya dan hanya buka sampai pukul 8 kalau tidak salah. Lebih baik bawa bekal untuk persiapan saja sekiranya warungnya tutup 😀

Ingin melihat sunrise membuat kami sudah bangun subuh-subuh, ternyata air laut yang sore-malamnya cukup dekat dengan bibir pantai disekitar penginapan kami kalau pagi surut cukup jauh sehingga pemandangannya cukup berbeda antara sore-malam dan paginya

Bama_Sunrise

Setelah matahari terbit, nampak begitu banyak monyet yang turun ke laut yang surut dan mengais-ngasi mencari makanan

Monyet

Mongkey of Baluran

Cukup lama saya mengamati monyet-monyet ini, tingkahnya mirip manusia yang sedang mencari makanan dari sisa-sisa pasang semalam. Di kejauhan tampak pemandangan indah kearah daratan TN Baluran

Bama

Refleksi yang indah itu benar-benar membuat saya tidak bosan-bosannya mengambil gambar disekitar pantai

Bama_Bangau

Refleksi

Hari semakin siang dan kami pun segera kembali ke penginapan untuk packing dan bersiap check out. Sambil jalan keluar kami mampir lagi ke Savanna Bekol yang sebelumnya hanya kami lewati karena sudah sore, kali ini kami ingin naik salah satu menara pengamatan yang terletak di savanna tidak jauh dari jalan

Menara Pengamatan

Satu hal yang sangat menarik bagi saya di Baluran adalah kondisi alam yang masih cukup terjaga dari sentuhan manusia, ada kepuasan sendiri menemukan rusa, burung dan binatang lainnya di alamnya apalagi kalau bisa memotonya

Rangkong

Bama_Rusa

Dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada, Taman Nasional Baluran tetap layak dan menyenangkan untuk dikunjungi. Saya masih ingin kesana, khususnya saat musim kemarau karena ingin melihat Afrika nya pulau Jawa yang sesungguhnya 😉

Advertisements
This entry was posted in Traveling. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s