Pulo Weh

Pulo Weh atau yang lebih populer dengan sebutan Sabang tentunya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar orang indonesia karena cukup sering di sampaikan di sekolah dan bahkan ada lagunya juga (Dari Sabang Sampai Merauke karya R. Suharjo)

Sabang diklaim sebagai pulau terluar disebelah barat Indonesia walaupun sebenarnya ada pulau lagi yang lebih diluar posisinya, yaitu Pulau Rondo yang tidak berpenghuni dan secara ukuran jauh lebih kecil dari Pulo Weh

peta-sabang

O iya, menyinggung soal Sabang, saya sendiri masih bingung dengan istilah ini. Saya sempat mengira kalau nama pulaunya adalah Weh dan kota di pulau itu bernama Sabang tapi ternyata saya salah, Pulo Weh atau Sabang itu menunjukan nama tempat yang sama. Namun bagi banyak turis dari manca negara, mereka lebih familiar dengan nama Pulo Weh dibanding Sabang.

Dari Banda Aceh kita bisa menggunakan ferry atau kapal cepat ke Pulo Weh, hanya sekitar 1 jam saja perjalanannya

Pelabuhan Ulee Lheueh

Kami menginap di Gapang Resort yang dimiliki oleh Pemda, tempat yang bagus tapi memang terlihat sudah lama, kurang fresh

Gapang Resort

Enaknya tempat ini lebih sepi pantainya dibanding lokasi lainnya yang sangat ramai seperti Iboih, selain itu kami juga bertujuan untuk menyelam di Weh dan menggunakan Dive Center Lumba Lumba yang letaknya sebelahan dengan Gapang Resort. Sebenarnya ada penginapan juga di Lumba Lumba tapi saat itu full booked

Lumba Lumba

Lumba Lumba

Saya pribadi sangat menikmati selama di Pulo Weh, suasananya yang nyaman, pemandangannya yang bagus dan banyak juga tempat makan yang enak. Bawah lautnya pun tidak kalah menarik, visibility yang bagus, coral yang warna-warni dan juga contour dasar lautnya yang beragam membuat kita tidak bosan untuk terus menyelaminya

Weh_UW2

Weh_UW1

Dua hari menyelam tentunya tidak cukup memuaskan kami karena masih banyak dive site yang belum kami selami tapi waktu dan budget kami cukup terbatas, paling tidak kami sudah melihat beberapa bagian bawah laut Pulo Weh.

Dive site

Hari terakhir kami manfaatkan untuk berkeliling pulau, menyewa sepeda motor dengan biaya sekitar 100rb per hari sudah lebih dari cukup untuk kami berkeliling dari ujung ke ujung Pulo Weh.

Dimulai dengan berburu sunrise di Iboih (selama 2 hari sebelumnya di Gapang, kali ini kami ingin melihat sunrise dari pantai yang berbeda)

Iboih

Iboih

dari Iboih kami melanjutkan menuju arah kota, jalanan di sepanjang Pulo Weh terbilang bagus dan tidak ramai kendaraan, sangat menyenangkan mengendarai motor ataupun mobil disini. Pemandangan sepanjang jalannya pun beragam, dari hutan dengan monyet-monyetnya, kemudian laut dan pulau-pulau sekitar pulau utama

Klah

Klah

Bahkan di sekitar kota pun lautnya masih bersih dan membuat siang yang luar biasa panasnya itu terasa adem dimata

Sabang

Kotanya sendiri tidak berbeda dengan kota-kota pesisir lainnya di Indonesia, kesan yang saya dapat adalah bersih dan aman. Di sini sangat lazim halnya menemukan motor-motor yang diparkir dengan kunci yang masih menempel, pun parkirnya gratis

Kota sabang

Untuk yang suka kuliner, di Pulo Weh banyak tempat-tempat yang bisa memuaskan rasa lapar akan kekayaan cita rasa makanan maupun minuman, baik sajian lokal maupun international bisa ditemukan di Pulo Weh. Di pusat kotanya ada beberapa kedai yang sudah berdiri puluhan tahun dan sudah dikenal luas di kalangan pengunjung, kopi aceh tentunya menjadi salah satu andalan minumannya.

Niat untuk makan siang di kota tidak bisa kami lakukan lantaran kami sudah kesiangan dan kedai yang kami tuju tutup, baru buka lagi sore menjelang malam. Kami lanjutkan perjalanan menuju salah satu tempat makan yang direkomendasikan, Freddies yang terletak di daerah Sumur Tiga.

Ditengah lapar dan siang yang panas itu tentunya kami ingin secepatnya sampai di Freddies tapi melewati salah satu ruas jalan setelah keluar kota, kami terpaksa menghentikan laju motor yang kami sewa setelah melihat hamparan bunga-bunga cantik dengan latar belakang laut dan langit yang biru bersih

Weh

weh

Rasa lapar ini ternyata masih bisa berkompromi kalau melihat yang indah-indah :D. Puas dengan foto-foto di tempat itu, kami lanjutkan perjalanan menuju Freddies. Sampai di Sumur Tiga kami pun memutuskan untuk sekali lagi mampir di Pantai Sumur Tiga, pikir-pikir biar sekalian nanti lanjut jalan setelah makan tanpa harus putar balik lagi

Sumur tiga

Dan akhirnya setelah perjalanan yang cukup jauh (boleh dibilang sudah lebih dari setengah Pulo Weh kami telusuri), kulit yang memerah karna terbakar dan rasa lapar yang tidak bisa kompromi lagi, kami sampai di Freddies. Dari tepi jalan raya sama sekali tidak menarik kelihatannya, kami malah hampir kelewatan karena benar-benar biasa tandanya, mana masuk gang kecil pula menuju kesana. Tapi setelah mendekat ke lokasi restorannya hati rasanya adem melihat indahnya pemandangan disana

Freddies

Dari informasi yang kami dapat, Freddies adalah seorang koki asal Afrika Selatan yang membuka restoran di Weh, beliau biasanya masak untuk tamunya jika kita makan malam disana. Menu yang ditawarkan cukup beragam layaknya restoran di Jakarta, benar-benar tidak terasa kalau kami sedang di tempat terpencil bernama Weh. Penasaran dengan rasanya kamipun memesan Pizza, yupp ini beneran Pizza

Pizza Freddies

Menikmati Pizza hangat yang sangat nikmat ditemani kelapa muda segar dengan pemandangan yang sangat indah tidak bisa digambarkan rasanya, jika mengunjungi Weh lagi harus menginap paling tidak semalam di Freddies. Di sini tersedia juga penginapan tapi harus di booking jauh-jauh hari karena sering penuh

Freddies Weh

Rasanya malas untuk beranjak dari Freddies, tempatnya benar-benar cozy dan menyenangkan. Kalau saja masih beberapa hari lagi di Weh saya akan nongkrong sampai malam disana, berenang dan main-main pasir dulu supaya lapar lagi 😀

Tapi hari ini adalah terakhir sebelum besok paginya kembali ke Banda Aceh untuk dilanjutkan ke Jakarta, kami masih harus ke Anoi Itam dan kemudian menyusuri pesisir timur laut Pulo Weh menuju ke Titik Nol untuk menyelesaikan misi “Explore Pulo Weh dari ujung ke ujung” 😉

Menuju ke Anoi Itam layaknya perjalanan ke daerah pedesaan, tidak seperti daerah sepanjang timur laut Pulo Weh yang cukup ramai (Iboih, Gapang, Kota) di daerah Anoi Itam kami hanya melihat desa-desa dengan rumah yang cukup berjarak satu dengan lainnya dan kadang bertemu kawanan sapi yang sedang di gembalakan, jalanannya pun kurang baik dibanding dearah yang kami lewati sebelumnya. Tapi soal pemandangan tetap tidak kalah, indah dan menyejukkan hati

Anoi Itam

Menjelang sore kami bergegas menuju Titik Nol untuk menikmati sunset di hari terakhir di Pulo Weh. Awalnya saya kurang yakin bisa sampai karena dari Anoi Itam sudah pukul 4 sore dan letaknya benar-benar ujung ke ujung dengan Titik Nol. Laju motor agak saya kencangkan namun tetap hati-hati, dan akhirnya kami bisa sampai di Titik Nol tepat pada waktunya.

Titik Nol

Tugu Titik Nol

Disini kami pun sempat ketemu dengan Broi..si babi hutan yang kerap keluar menemui pengunjung, Broi tidak takut dengan para pengunjung dan pedagang yang berjualan di sekitar Tugu Titik Nol

Babi Hutan

Dan akhirnya matahari pun mulai tenggelam di ufuk timur, kami dan beberapa pengunjung lainnya terpaku mellihat mentari yang perlahan-lahan mulai hilang dari pandangan. Dalam hati rasanya puas sekali untuk bisa berada disini, Titik Nol Indonesia Bagian Barat

Sunset Titik Nol

Di Titik Nol ini kami pun sempat bertemu dengan 2 orang pengunjung dari Jakarta yang ternyata jadwal pulangnya sama dengan kami, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi kami untuk langsung akrab dan berbincang-bincang mengenai semua pengalaman selama di Weh.

Malam itu kami mengajak mereka untuk menikmati makan malam di restoran italia yang tidak terlalu jauh dari Titik Nol, namanya Bixio dan terlihat kurang menarik dari pinggir jalan yang cukup gelap dan perlu menyusuri jalan setapak dulu melewati kebun tapi makanan dan suasanya sangat nikmat, tidak tanggung-tanggung, beberapa bahan makanan yang tidak terdapat di pasar lokal mereka pesan dari italia demi menjaga cita rasanya.

Menikmati spaghetti diiringi musik dan deburan ombak rasanya sungguh nikmat, sangat pas untuk mengakhiri hari yang memang penuh dengan keindahan di Pulo Weh

Posted in Traveling | Leave a comment